Fsdss-874 Kasih Paham Rudalku Terhadap Teman Kerja Cantik Mami | Mashiro - Indo18
“Rudi,” bisiknya, “aku selalu memperhatikan kamu. Kamu tampak selalu fokus, tapi ada bagian dirimu yang masih tersembunyi.”
“Rudi, kamu tahu apa yang membuat sushi begitu istimewa?” tanya Mashiro sambil menatapku.
Aku menatapnya, hati berdegup kencang. “Aku… kadang merasa terjebak antara pekerjaan dan… perasaan yang tidak jelas.” “Rudi,” bisiknya, “aku selalu memperhatikan kamu
Dia menurunkan gelasnya, menaruhnya di meja dengan hati-hati, lalu melangkah lebih dekat lagi. Tangan Mashiro menutupi tanganku, mengalirkan kehangatan yang menenangkan. “Jika kamu mau, kita bisa membuka bagian itu bersama,” katanya dengan suara rendah namun tegas.
“Aku suka cara kamu memandang dunia,” katanya sambil menatapku. “Kamu selalu mencari logika di setiap detail, bahkan di hati sendiri.” “Aku suka cara kamu memandang dunia,” katanya sambil
Mashiro menuntun langkahku ke sebuah bangku kayu yang menghadap ke kolam kecil. Kami duduk, saling berhadapan, menatap air yang berkilau. Suara gemericik air menambah keheningan yang hangat.
Aku tersenyum, menatap matanya yang bersinar. “Kamu mengajarkanku cara menikmati momen, bukan hanya memecahkannya menjadi angka-angka.” Bukan sekadar rasa makanan
“Bagus, aku juga penasaran. Ayo, makan bareng.” Kami melangkah keluar gedung, menembus lalu lintas kota yang riuh. Di dalam taksi, Mashiro menyalakan musik jazz lembut, menambah suasana yang santai. Selama perjalanan, percakapan kami mengalir lancar: tentang pekerjaan, hobi, bahkan rahasia kecil yang hanya dibagikan antara dua orang yang merasa nyaman satu sama lain.
Dan begitulah, dari sebuah undangan makan siang sederhana, lahirlah cerita tentang dua hati yang menemukan ritme mereka di tengah hiruk‑pikuk kota—sebuah kisah yang akan terus kami kenang sebagai awal dari sesuatu yang lebih hangat, lebih nyata, dan lebih memuaskan.
Saat aku membuka pintu ruang istirahat, dia sudah duduk di meja pojok, menatap laptop dengan senyum lembut. “Hai, Rudi. Aku dengar kamu suka makan sushi,” katanya, suaranya lembut seperti melodi piano.
Dia mengangguk, kemudian mencondongkan kepalanya ke arahku, bibirnya mendekat. “Rudi, apakah kamu siap menerima rasa baru ini? Bukan sekadar rasa makanan, tapi rasa yang mengalir dalam setiap detak jantungmu.”