Erica has wanted to be a travel writer since college and now as a mom of two, she's finally pursuing that dream. She takes pride in researching the best trip information and test driving the recommendations you'll find on this site. When she's not immersed in travel research you can find her with her kids or attempting to learn tennis (advice accepted!).
“Ini ironis sekaligus menarik,” kata dr. Anissa Rahma, antropolog budaya dari UI. “Masyarakat kita mempolarisasi ketakutan menjadi komoditas. Sesuatu yang awalnya menyeramkan, ketika dikemas ulang oleh algoritma TikTok dan Instagram, berubah menjadi estetika. Kebaya merah tidak lagi menakutkan; ia menjadi ‘empowering’, ‘bold’, dan ‘statement piece’.” Memasuki minggu kedua, drama bergeser ke ranah hukum dan klaim budaya. Seorang kolektor antik asal Yogyakarta, Raden Mas Purnomo, muncul dengan bukti foto bahwa kebaya merah dalam video tersebut adalah koleksi pribadinya yang hilang dari museum mini miliknya pada tahun 2022. “Ini kebaya pusaka dari abad ke-19, ada nilai spiritual dan historisnya. Bukan untuk konsumsi sensasi atau dibuatkan replika murahan,” tegasnya di sebuah wawancara televisi.
Tak berselang lama, seorang perempuan muda bernama Laras (22 tahun) mengaku sebagai model dalam video tersebut. Dalam sebuah video klarifikasi yang juga viral, Laras menjelaskan bahwa ia sengaja membuat konten horor dengan efek editing sederhana untuk tugas akhir mata kuliah film pendek. “Saya kaget sendiri. Saya pakai kebaya merah warisan simbah, lalu jalan mundur memang sudah direncanakan, tapi teman saya menambahkan efek menghilang di dinding setelahnya. Saya tidak tahu akan sebesar ini,” ujarnya.
Jadi, pada akhirnya, apakah kebaya merah itu nyata? Apakah ia berhantu, atau hanya cermin dari ketakutan kolektif kita yang dengan mudah diracik menjadi tontonan? Satu hal yang pasti: sampai ada yang mengunggah video klarifikasi berikutnya, atau sampai tagar #KebayaMerah tergantikan oleh tren baru, kita akan terus men-scroll, menonton, dan bertanya-tanya. Karena di era viral, tidak ada yang lebih menakutkan sekaligus menggiurkan selain misteri yang belum selesai.
Namun ada satu sisi yang mungkin luput dari hingar-bingar algoritma: . Ia tetap sehelai kain, dengan jahitan tangan, kancing kancing kuno, dan mungkin sejumput kenangan pemilik sebelumnya. Yang berubah adalah cara kita memandangnya—dan cara algoritma mempertontonkannya kembali kepada kita, lebih kuat dari sebelumnya.